Meningkatkan Profit Perusahaan Tanpa Meningkatkan Penjualan , Mungkinkah ?
oleh :Agus Krisdianto ST, MM

 
            Bagi sebagian pengusaha , untuk meningkatkan profit perusahaan mereka akan berlomba meningkatkan produktifitas penjualan. Mereka berusaha sekerasnya dengan berbagai cara untuk meningkatkan penjualan. Bila anda berpikir demikian , maka anda telah tertinggal 20 tahun kebelakang , baik cara berpikir dan cara bertindak anda. Cara tersebut hanya cocok bila anda tidak memiliki kompetitor yang kuat atau produk anda tidak mempunyai kompetitor. Bagaimana meningkatkan profit perusahaan tanpa meningkatkan penjualan ?.

             Di jaman modern ini , semua perusahaan berlomba-lomba meningkatkan profit perusahaan agar mereka tetap eksis. Serta berusaha memenuhi kepuasan pelanggan agar pelanggan tetap setia. Kalau anda bisa memberikan kepuasan pelanggan yang ” lebih ” berupa barang produksi atau jasa yang berkualitas serta berharga lebih murah dari kompetitor anda disatu sisi , dan disisi yang lain anda meningkatkan profit , maka itu suatu keberhasilan. Tapi bagaimana menghasilkan produk berkualitas dengan harga murah tapi profit meningkat.


            Gambar diatas menunjukkan suatu paradigma lama akan peningkatan profit , gambar A menunjukkan peningkatan profit dibarengi dengan peningkatan harga jual.Kondisi ini kurang menguntungkan pada saat ini karena bila harga jual naik tentu saja pelanggan akan berpindah ” kelain hati ” ke produk sejenis yang memiliki harga murah dengan kualitas sama . Jika pilihan ini anda ambil , alih-alih untuk meningkatkan profit perusahaan malah menjadi menurunkan penjualan yang kemudian mempengaruhi penurunan profit perusahaan.

            Gambar B menunjukkan usaha peningkatan profit disertai dengan peningkatan biaya produksi. Usaha ini biasanya dijalankan oleh perusahaan yang baru berkembang , untuk  ” mencuri  ” hati pelanggan mereka membuat produk yang berkualitas lebih baik dan fitur-fitur canggih. Penambahan fitur-fitur atau asesoris canggih agar pelanggan memikat tentu sah-sah saja agar pelanggan tertarik untuk membeli. Dengan meningkatnya pembelian produk oleh pelanggan tentu saja penjualan akan naik. Kenaikan penjualan tentu saja akan mempengaruhi profit perusahaan. Persoalannya adalah , untuk menambah fitur-fitur baru tersebut anda membutuhkan biaya produksi  tambahan . Dengan peningkatan biaya produksi serta profit tetap membuat harga produk naik , apakah pelanggan akan tertarik memebeli bila harganya mahal ? . Apalagi bila anda berniat meningkatkan profit , maka harga produk anda semakin mahal bukan ?. Alih-alih untuk meningkatkan profit dengan fitu-fitur baru dan canggih malah anda akan kehilangan pelanggan potensial.

            Dulu ” usia ” produk bisa bertahan lama hingga tahunan , misalkan sepeda montor yamaha keluaran tahun ’75 masih dapat bertahan hingga dikeluarkan produk terbarunya pada tahun ’80an ( hampir 5 tahun ). Tapi sekarang , sepeda montor yamaha matik Mio baru keluar ke pasar , beberapa minggu kemudian disusul Honda Vario lalu Suzuki Spin. Hal ini membuat pabrikan sepeda montor yamaha dalam satu tahun mengeluarkan produk baru agar tetap ” survive ” dari serangan kompetitor , tidak kurang 2 produk baru, yaitu Mio sport dan Mio Soul. Jadi ” usia ” Sepeda  montor Mio tersebut hanya ” beberapa ” bulan saja.

Jadi bagaimana menyiasatinya ?. Salah satu cara adalah dengan menekan biaya produksi. Meskipun penjualan anda tetap tetapi biaya produksi anda bisa ditekan , maka anda akan mendapatkan peningkatan profit yang signifikant. Selain harga produk anda tidak mengalami peningkatan , anda juga tidak kehilanggan pelanggan potensial anda. Karena mereka ( para pelanggan ) akan mendapat harga produk anda tetap lebih murah disamping ” para kompetitor ” anda. Ilustrasi tersebut dapat anda lihat pada gambar 2.

Bagaimana mungkin menekan biaya produksi , sementara harga bahan baku dan tenaga kerja selalu naik ? . Caranya adalah dengan perbaikan setiap waktu ( continuous improvement ) .

            Dalam bahasa indonesia dapat diterjemahkan sebagai perbaikan setiap waktu dan selalu. Anda dapat mengurangi pemborosan-pemborosan dengan perbaikan-perbaikan sistem kerja. Contoh : anda dapat mengganti lampu penerangan 20- 40 watt dengan lampu hemat energi 9 – 12 watt , yang memiliki kekuatan penerangan sama tetapi berdaya lebih rendah . Merubah sistem kerja full paper dengan paperless , buat semua komputer ditempat anda terkoneksi  satu sama lain. Maksudnya agar instruksi kerja , gambar-gambar produksi , data-data dapat diakses langsung yang berkepentingan sehingga anda dapat menghemat kertas serta biaya memperbanyak dokumen ( biaya membeli foto copy atau mesin printer. biaya beli kertas dll ).

            Contoh-contoh penghematan diatas dapat anda lajujab disemua bidang. Dari perubahan awal , pasti akan ada perubahan baru untuk menyempurnakan perubahan pertama. Demikian juga perubahan kedua akan disempurnakan oleh perubahan ketiga, keempat dan kelima. Begitu seterusnya , terus , terus tanpa berhenti melakukan improvement.
            Kalau setiap bagian bisa menghemat rata-rata 20 – 30 % , anda akan mendapatkan peningkatan profit 20 – 30 % pada tahap pertama anda melakukan improvement. Jika anda terus melakukan continuous improvement kedua , ketiga , kemepat ,dst  , berapa anda berhasil meningkatkan profit perusahaan anda ? . Wow , anda akan menemukan nilai yang luar bisa fantastik. Sekali lagi , tanpa peningkatan penjualan apalagi bila anda meningkatkan penjualan. Perusahan anda akan menjadi  perusahaan yang sangat kompetitif.

 

 
Produktifitas 09/01/2008
 


Gaya Kepemimpinan Dan Produktivitas Kerja oleh Antoni.,SE.,ME
Produktifitas
Oleh : Agus Krisdianto

Produktivitas diartikan sebagai hubungan antara hasil nyata maupun fisik dengan masukan yang sebenarnya (ILO, 1979). Sinungan (1985) mengartikan produktivitas sebagai perbandingan antara totalitas pengeluaran pada waktu tertentu dibagi totalitas masukan selama periode tersebut.
Pentingnya produktivitas kerja mencakup banyak hal, dimulai dari produktivitas tenaga kerja, produktivitas organisasi, produktivitas modal, produktivitas pemasaran, produktivitas produksi, produktivitas keuangan dan produktivitas produk. Pada tahap awal revolusi industri di negara-negara Eropah, perhatian lebih banyak tertuju pada bidang produktivitas tenaga kerja, produktivitas produksi dan produktivitas pemasaran. Sedangkan di negara Jepang, perhatian peningkatan produktivitas tertuju pada produktivitas tenaga kerja dan produktivitas organisasi, sehingga keharmonisan kepentingan buruh dan majikan dipelihara dengan baik.
Gaya Kepemimpinan Dan Produktivitas Kerja oleh Antoni.,SE.,ME
Riggs (dalam Prisma. 1986:5) menyatakan ada 3 tahapan penting yang ditempuh untuk mensukseskan gerakan produktivitas, yaitu dengan ringkasan A-I-M (Awareness, Improvement, dan Maintanence). Indonesia, pada saat ini masih pada tahap Awareness, belum mencapai Inprovement dan Maintanance. Untuk sampai pada tahap Improvement dan Maintanance banyak cara yang ditempuh, diantaranya dengan meningkatkan produktivitas total, yang terdiri dari (a). Tingkat ekonomi makro; (b). Tingkat sektor lapangan usaha; (c). Tingkat unit organisasi secara individual dan; (d). Tingkat manusia secara individual. Simanjuntak (1983) menyatakan bahwa produktivitas dipengaruhi oleh faktor yang bersumber dari individu itu sendiri, lingkungan sosial pekerjaan, dan faktor yang berhubungan dengan kondisi pekerjaan.
Gaya Kepemimpinan Dan Produktivitas Kerja oleh Antoni.,SE.,ME

 

Manajemen